Disaat hidup begitu membosankan

Friday, January 22, 2010

Setiap pagi jam setengah 7, adalah waktu gw berangkat kerja. Ditengah kemacetan jalan, gw suka melihat-lihat kesekeliling dari dalam jendela mobil. Jalan tersebut adalah sebuah jalan di bawah jembatan pasar kebayoran lama. Setiap paginya banyak pedagang-pedagang maupun orang2 yang melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang hanya duduk-duduk merokok dengan pandangan hampa. Ada yang sibuk mengurusi lapak dagangannya ditengah tebalnya asap kendaraan dan ramainya orang, maupun para polisi cepek yang tengah beraksi.

Banyak ekspresi disetiap 2 meter pandangan. Terkadang gw suka bertanya dalam hati, seperti apa kehidupan mereka? apakah begitu beratnya hidup hingga mampu meninggalkan bekas pada guratan2 wajah mereka. Wajah yang penuh dengan perjuangan dan kepasrahan.

Pemandangan setiap hari yang gw lalui disepanjang jalan itu terkadang mampu membuat air mata terjatuh. Melihat bagaimana seorang ibu sambil menggendong anaknya yang masih bayi tidak mempedulikan polusi asap knalpot kendaraan dan hiruk pikuknya jalanan. Dilapak seluas satu meter persegi ditepi jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan, sang ibu seakan terlupa sudah dengan sibuknya mengatur lapak dagangannya yang gw sendiri jujur berkata, mana ada yang mau beli baju dan celana bekas seperti itu? malah kelihatan belum dicuci lagi.

Setidaknya itu dari sudut pandang gw dari seseorang pengamat yang duduk nyaman di dalam mobil sambil menikmati merdunya alunan musik. Tapi mungkin kita tidak menyadari, baju bekas itulah yang membuat ibunya tetap dapat menyusui bayinya. Sebuah baju bekas yang mampu menimbulkan bekas guratan kehidupan diwajah sang ibu. Sebuah baju bekas yang bahkan menjadi lebih berharga dari seorang manusia, suaminya.

Dari sisi kita sebagai orang yang mungkin berasal dari ekonomi berkecukupan, tetap tidak bisa masuk akal sehat gw. Bagaimana mungkin seorang bapak dapat tega meninggalkan istrinya dan anaknya yang masih kecil itu untuk mengurus lapak seorang diri dipinggir jalan yang sarat dengan polusi asap kendaraan? Lalu, dimana adilnya Tuhan? Mengapa Tuhan menciptakan kemiskinan bila Tuhan adalah Maha Kaya? Mengapa harus ada kaya dan miskin, senang dan sedih dikehidupan ini? tidak bisa kah kita hanya diberikan hidup kaya dan senang saja semuanya? toh tidak akan mengurangi kekayaan Tuhan yang Maha Kaya itu? apa dosa anak yang lahir dari rahim ibu tersebut hingga mendapat kehidupan yang sangat berat seperti itu. Sungguh tidak terbayang bagi gw bila memiliki kehidupan seperti itu.

Namun tidak mungkin juga semuanya diciptakan sebagai direktur, lalu siapa yang akan menanam padi? Tidak mungkin juga semuanya diberikan kekayaan berlimpah, lalu bagaimana kita bersedekah? Hidup ini adalah sebuah misteri bagi yang tidak mengerti agama. Tapi sebuah pelajaran dan peringatan bagi yang membaca kitab-Nya. Tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. Dari pandangan mata kita sebagai manusia biasa, mereka hanyalah seorang ibu dan bayinya yang tidak beruntung hidupnya, terlahir sebagai orang miskin. Tapi mungkin dibelakang semua itu ada penyebab yang membuat Allah menetapkan sebuah kehidupan seperti itu kepada mereka. Entah apa, tapi gw yakin ada penyebab dan maksudnya.

Albert Einsten pernah berkata pada dosennya ketika dia ditanya apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Dia menjawab, layaknya apakah gelap itu ada hanyalah sebuah manifestasi dari tiadanya cahaya. Dan diberikan nama gelap karena kita tidak mampu mengukur panjangnya gelombang warna pada cahaya dan intensitas nya saat keadaan gelap. Sama dengan kejahatan, apa yang tampak dimata untuk kehidupan ibu dan anak tersebut mungkin bisa membuat kita berfikiran bahwa Tuhan telah jahat pada kita. Namun apa mungkin lebih baik kita sadari bahwa kehidupan seperti itu mereka miliki dikarenakan oleh tidak adanya Tuhan dalam hati mereka sejak lama?

Dan sungguh itu merupakan sebuah contoh kehidupan yang diperlihatkan oleh Allah SWT untuk setiap hambanya. Suka atau tidak Allah memiliki ketetapannya sendiri untuk masing-masing kehidupan. Yang diberikan sesuai dengan tingkat ketagwaan mereka. Ambil saja contoh, mana ada dai atau kiayi yang semiskin-miskinya menurut ukuran kita menderita seperti ibu itu. Setidaknya mereka memiliki kehidupan yang lebih terhormat walaupun hanya berkecukupan. Semuanya dihadirkan ke dalam kehidupan manusia dengan satu maksud, yaitu agar manusia bersyukur dan bertaqwa. Sebagai tanda kebesaran Dia sang Maha Pencipta kehidupan. Bahwa ada kehidupan yang lebih berat, daripada sekedar "membosankan".

0 comments:

Post a Comment