One day I'II show

Tuesday, February 2, 2010

With pride I go.
One day I'II show.
Nothing can't stop me.
But myself and God.
I'II go on with what I have.
I seize the day.
I'II find my way.

-Anonymous-

Entah mengapa rangkaian kalimat ini begitu berkesan untuk gw. Something touchy and witty, kata-kata yang setelah gw selesai membacanya secara keseluruhan, gw merasa, INI GW BANGET...

Gw merasa akhir-akhir ini gw ingin melakukan banyak hal yang hebat yang nantinya menjadi bidang yang bakal gw senangi.

Gw merasa sedang mencari dan men-set comfort zone gw dengan melewatkan berbagai kesempatan untuk mengembangkan potensi-potensi lain yang gw miliki.

Jujur aja, gw kepingin banget berorganisasi. Organization is a place where I can do something to my environment. I do like to know everyone with their uniques and their capabilities. It is fun when I can learn so many things from a great people. And from that way I know, I also can do the same.

Yah, kayak kemarin saat gw dan sepupu gw pergi ke sebuah mall didaerah cilandak. Kita berdua emang udah janjian dengan seseorang di sana untuk COD an barang.

Awalnya gw pikir itu cuman sekedar pertemuan biasa, pertemuan antara 2 orang pembeli dan penjual lewat forum jual beli KASKUS. Tapi pada akhirnya gw ngerasa diskusi kita saat itu menjadi ajang tukar pikir dan sharing pendapat tentang forum online tersebut.

Seriously, it is fun...it's really-really fun, walaupun saat itu gw baru kenal mereka, tapi kita semua comfort dengan obrolan kita saat itu. Apalagi dengan bahasa KASKUS kers yang kita pakai (juragan, cendol, bata merah, bata hijau, sundul, up, testi), gw sering ketawa sendiri kalau gw ingat itu semua, Hahahaaa.

Tetapi terkadang semakin ke sini passion itu semakin lama semakin menipis. Seperti senjata sedang kehabisan amunisi. Semangat itu sudah tidak membara dan hanya meletup pada waktu-waktu tertentu.

Mungkin gw masih bisa menimbulkan semangat itu lagi kalau gw bener-bener mau.

Jadi sekarang gw cuma mau mencoba menjalani masa kuliah ini dengan sebaik-baiknya. Sebelum nantinya rumah tangga akan membatasi gerak kehidupan gw yang dinamis *alah...

Oh iya, gw juga sekarang lagi mencoba untuk nyari pekerjaan lagi. Semoga CV gw diterima amin ya Allah! Nanti kalau udah jelas, I'II tel you what kind of the job that I try to get. Maybe it will make some people surpise and say

"aruu!!! you have many contradictif in your mind and your practical." Hahahaha

And of course, I will write every day about my activities during my times there. I'm sure it would be very interesting and you will have informations that you can't find in mass media, hohoho.
Curious? Just check my blog and update your info :)

~I'II find my way

Pohon dan Daun

Wednesday, January 27, 2010

I wish I could convey this...

"Daun terbang karena angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?"

Frau dan Mesin Penenun Hujan

Monday, January 25, 2010

Bagi kebanyakan musisi, bergabung dengan perusahaan rekamaan besar umumnya menjadi pilihan jalan terbaik untuk mencapai puncak prestasi. Melalui major label, kemudahan meraih ketenaran yang berujung pada datangnya kemudahan finansial menjadi pandangan mainstream. Meskipun kemudian, ada sejumlah kompromi yang harus dijalankan. Namun bagaimana dengan pemikiran para musisi indie?

Dari Jogja, seorang gadis belia mulai menggebrak panggung musik indie nasional lewat harmoni kord-kord piano elektriknya. Frau, pianis solo berdarah campuran Jogja-Jepang Hawaii telah membuat kagum banyak penikmat musik bawah tanah (termasuk gw). Lewat sejumlah performa gabungan piano dengan teater atau seni pantomim, Frau dipuji banyak pengamat musik indie sebagai new rising star di musik indie. Frau sendiri juga tidak segan-segan menyebarluaskan karya musiknya secara gratis melalui internet. Baginya, bermusik adalah media penyaluran hobi sekaligus wujud aktualisasi diri, yang tak bisa dibatasi oleh tuntutan-tuntutan atas nama bisnis komersil.

Berikut salah satu karya Frau, "Mesin Penenun Hujan".

-Mesin Penenun Hujan.mp3 (Download Here)

Merakait mesin penenun hujan
Hingga terjalin terbentuk awan
Semua tentang kebaikan
Terlukis
Tertulis
Tergaris
Di wajahmu

Keputusan yang kau tlah putuskan
Ketika engkau telah tunjukan
Semua tentang kebaikan
Kebaikan di antara kita

Kau sakiti Aku
Kau terangi Aku
Kau sakiti
Terangi
Kau benci Aku
Tetapi esok nanti
Kau akan tersadar
Kau temukan sebuah bayangan di hati
Dan aku kan ingat
Ku kan jadi hujan
Tapi tak kan ada
Ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukan
Semua tentang kebaikan
Kebaikan diantara kita

Ingat Mantel Setelah Hujan

Sunday, January 24, 2010

Belakangan ini langit memang lagi kurang bersahabat. Yah, udara yang lembab dan sinar matahari yang males muncul di setiap harinya terkadang membuat gw betah di kamar. Doing something and listening some music in my room menjadi kegiatan gw ketika musim hujan datang.

Tapi itu nggak menjadi alasan gw untuk males keluar rumah. Kayak kemaren, ketika gw lagi pergi ke luar sebentar. Padahal waktu gw berangkat, langit keliahatan begitu cerahnya dan Masya Allah, tiba-tiba aja turun hujan. Dan lupanya gw saat itu nggak bawa mantel yang biasanya gw lipat di bawah jok motor. Jadilah gw basah-basahan di jalan sambil buru-buru cari tempat neduh sementara.

Ternyata gejala terik dan cerahnya sedari tadi itu mengarah ke hujan yang bakal turun. Untungnya langit saat itu nggak ngebiarin gw berlama-lama untuk neduh, hehehe.

Jadi, nggak ada alasan lagi bagi gw sekarang untuk lupa bawa mantel, walaupun langit cerah sekalipun.

Malam dan pagi membawa atmosfer yang tenang

Saturday, January 23, 2010

Kadang malam sering kali membawa atmosfer yang tenang.

Rutinitas yang memaksa pikiran berkonsentrasi melakukan pekerjaan perlahan terasa hilang.

Biarpun begitu, pagi hari seringkali membawa atmosfer yang ringan dan cerah. Memutarbalikan keadaan yang dirasakan sebelumnya.

Yah, ketika gw bangun di pagi hari, shalat subuh dan selesainya (masih belum buka sarung, gw duduk bersila sembari matahari pagi muncul dengan sinar hangatnya, menggantikan malam dan kegalauan di dalamnya, perasaan gw lebih ringan sekarang, pikiran gw semakin terbuka.

Life is an improvitation, it is a play without script.

Yeah, kalau keadaan nggak berjalan sesuai yang gw bayangkan, gw akan berimprovisasi dan menyesuaikan diri. Mengubah keadaan itu menjadi berbalik ke arah seperti yang gw inginkan sebelumnya.

Yang bisa gw lakukan sekarang adalah berusaha, tanpa memikirkan hasil yang gw dapat nantinya.

Don't thingking of result, just struggling that have enough.

Tapi terkadang gw ga pernah absen untuk bertanya dalam hati, atau sekedar memflasback dan memperhatikan, did I mis my checkpoint? Where that moment which gonna change my life forever? Kebiasaan yang seakan menjadi imsonia bagi gw setiap kali merenung dan membayangkan seperti apa kehidupan gw di 10 tahun mendatang?

Gw hanya bisa berharap yang terbaik dari Allah SWT, Dialah yang paling tahu apa yang baik untuk kita.

Amien

My Pandora Box

Friday, January 22, 2010

Pernah dengar istilah kotak pandora?

Bukan kota atau sebuah tempat di film nya avatar lho, tapi itu kotak yang isinya merupakan harapan-harapan kita. Kotak pandora dianggap benda berbahaya karena isinya tersebut. Yeah, harapan dianggap berbahaya karena manusia dianggap sebagai makhluk yang bergantung pada harapan, ia mati-matian bertahan hidup dari harapan-harapan; gambaran akan sesuatu yang baik di masa mendatang yang menjadikan manusia rela melakukan apapun demi harapan tersebut. Padahal seringkali kenyataan yang pahit muncul untuk ditelan bulat-bulat.

Agak pusing ya? Tapi intinya begitu. Gw bukan orang yang takut berharap, gw survive di kehidupan ini karena memegang erat mimpi-mimpi gw, gw memang bekerja keras untuk itu, tapi gw menjalankannya dengan sukacita.

Ada satu harapan yang gw takuti, harapan dalam urusan suka sama seseorang. Yah...bisa di bilang sedikit trauma buat masalah yang kayak gini.

Kita tidak sekedar mencari seseorang yang mau menerima cinta kita, melainkan mencari seseorang yang mau mencintai kita...

Gw teringat kutipan dari salah satu buku yang pernah gw baca:

'Yang namanya cinta sepihak itu kayak orang berjalan, kamu bisa memilih untuk berhenti di mana saja, atau kamu juga bisa memilih untuk berlari dan terus maju'

Kenapa tiba-tiba gw ngomongin ini? karena gw emang belakangan ini trauma dan TAKUT BERHARAP sama seseorang. Gw hanya ingin lebih ke arah "I want him/her to love me back", berharap juga dicintai oleh orang yang kita cintai.

Lama-lama kita jadi orang yang penuh pertimbangan dan pemikiran juga ya. Kita menciptakan kotak pandora kita sendiri. Bisa-bisa nggak ada lagi istilah 'he/she is my kryptonite' tapi 'he/she is my pandora box'. Dih jelek banget.

Padahal...kalau diingat-ingat, esensi sebenarnya dari cinta kan giving not talking. Tapi sebenernya semua orang punya hak untuk suka sama seseorang, masalah terbalas atau tidak terbalas itu seharusnya soal lain. Kalau dia bener-bener tulus sayang, seharusnya kita menghargai perasaan orang yang menyayangi kita itu, kan? Oke...terlihat terlalu ideal untuk jadi kenyataan, tapi...why not? :)

Disaat hidup begitu membosankan

Setiap pagi jam setengah 7, adalah waktu gw berangkat kerja. Ditengah kemacetan jalan, gw suka melihat-lihat kesekeliling dari dalam jendela mobil. Jalan tersebut adalah sebuah jalan di bawah jembatan pasar kebayoran lama. Setiap paginya banyak pedagang-pedagang maupun orang2 yang melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang hanya duduk-duduk merokok dengan pandangan hampa. Ada yang sibuk mengurusi lapak dagangannya ditengah tebalnya asap kendaraan dan ramainya orang, maupun para polisi cepek yang tengah beraksi.

Banyak ekspresi disetiap 2 meter pandangan. Terkadang gw suka bertanya dalam hati, seperti apa kehidupan mereka? apakah begitu beratnya hidup hingga mampu meninggalkan bekas pada guratan2 wajah mereka. Wajah yang penuh dengan perjuangan dan kepasrahan.

Pemandangan setiap hari yang gw lalui disepanjang jalan itu terkadang mampu membuat air mata terjatuh. Melihat bagaimana seorang ibu sambil menggendong anaknya yang masih bayi tidak mempedulikan polusi asap knalpot kendaraan dan hiruk pikuknya jalanan. Dilapak seluas satu meter persegi ditepi jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan, sang ibu seakan terlupa sudah dengan sibuknya mengatur lapak dagangannya yang gw sendiri jujur berkata, mana ada yang mau beli baju dan celana bekas seperti itu? malah kelihatan belum dicuci lagi.

Setidaknya itu dari sudut pandang gw dari seseorang pengamat yang duduk nyaman di dalam mobil sambil menikmati merdunya alunan musik. Tapi mungkin kita tidak menyadari, baju bekas itulah yang membuat ibunya tetap dapat menyusui bayinya. Sebuah baju bekas yang mampu menimbulkan bekas guratan kehidupan diwajah sang ibu. Sebuah baju bekas yang bahkan menjadi lebih berharga dari seorang manusia, suaminya.

Dari sisi kita sebagai orang yang mungkin berasal dari ekonomi berkecukupan, tetap tidak bisa masuk akal sehat gw. Bagaimana mungkin seorang bapak dapat tega meninggalkan istrinya dan anaknya yang masih kecil itu untuk mengurus lapak seorang diri dipinggir jalan yang sarat dengan polusi asap kendaraan? Lalu, dimana adilnya Tuhan? Mengapa Tuhan menciptakan kemiskinan bila Tuhan adalah Maha Kaya? Mengapa harus ada kaya dan miskin, senang dan sedih dikehidupan ini? tidak bisa kah kita hanya diberikan hidup kaya dan senang saja semuanya? toh tidak akan mengurangi kekayaan Tuhan yang Maha Kaya itu? apa dosa anak yang lahir dari rahim ibu tersebut hingga mendapat kehidupan yang sangat berat seperti itu. Sungguh tidak terbayang bagi gw bila memiliki kehidupan seperti itu.

Namun tidak mungkin juga semuanya diciptakan sebagai direktur, lalu siapa yang akan menanam padi? Tidak mungkin juga semuanya diberikan kekayaan berlimpah, lalu bagaimana kita bersedekah? Hidup ini adalah sebuah misteri bagi yang tidak mengerti agama. Tapi sebuah pelajaran dan peringatan bagi yang membaca kitab-Nya. Tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. Dari pandangan mata kita sebagai manusia biasa, mereka hanyalah seorang ibu dan bayinya yang tidak beruntung hidupnya, terlahir sebagai orang miskin. Tapi mungkin dibelakang semua itu ada penyebab yang membuat Allah menetapkan sebuah kehidupan seperti itu kepada mereka. Entah apa, tapi gw yakin ada penyebab dan maksudnya.

Albert Einsten pernah berkata pada dosennya ketika dia ditanya apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Dia menjawab, layaknya apakah gelap itu ada hanyalah sebuah manifestasi dari tiadanya cahaya. Dan diberikan nama gelap karena kita tidak mampu mengukur panjangnya gelombang warna pada cahaya dan intensitas nya saat keadaan gelap. Sama dengan kejahatan, apa yang tampak dimata untuk kehidupan ibu dan anak tersebut mungkin bisa membuat kita berfikiran bahwa Tuhan telah jahat pada kita. Namun apa mungkin lebih baik kita sadari bahwa kehidupan seperti itu mereka miliki dikarenakan oleh tidak adanya Tuhan dalam hati mereka sejak lama?

Dan sungguh itu merupakan sebuah contoh kehidupan yang diperlihatkan oleh Allah SWT untuk setiap hambanya. Suka atau tidak Allah memiliki ketetapannya sendiri untuk masing-masing kehidupan. Yang diberikan sesuai dengan tingkat ketagwaan mereka. Ambil saja contoh, mana ada dai atau kiayi yang semiskin-miskinya menurut ukuran kita menderita seperti ibu itu. Setidaknya mereka memiliki kehidupan yang lebih terhormat walaupun hanya berkecukupan. Semuanya dihadirkan ke dalam kehidupan manusia dengan satu maksud, yaitu agar manusia bersyukur dan bertaqwa. Sebagai tanda kebesaran Dia sang Maha Pencipta kehidupan. Bahwa ada kehidupan yang lebih berat, daripada sekedar "membosankan".

Honestly...

Sunday, January 17, 2010


Honestly....
From the bottom of my heart.
I don't wanna it happens.
Something weird but I don't understand too.
Everday my mind always try to figureout this.

I don't wanna blaming my self.
Because it will makes everthing going worse.
I just want think possibly that I still can

I hope someday I wil find my way

Gw udah mencoba segala cara yang bisa gw lakukan saat ini, yang gw ketahui saat ini, untuk bisa mengerti orang tersebut, tapi tetep aja dia akan menjadi seseorang yang sulit gw tebak. I'm living in my anxiety about him.

But, I have move on, no time to think about it. Eventhough I really want to do it. But with these pressures, I have to make some actions about my life now. The thinking is just too much. I want more action, I want to make a progress.

Botchan

Saturday, January 2, 2010



Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Natsume Soseki
Penerjemah: Indah Santi Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2009.
Tebal: 217 hlm.



Beberapa alasan gw memutuskan untuk membaca novel ini:

1.Desain Covernya.
Ini sesuatu yang langka, sebab gw nyaris nggak pernah menilai buku dari sampulnya. Selama ini, gw termasuk orang yang cukup setia mengamalkan ungkapan “Don’t judge the book by its cover”. Biasanya, pertimbangan utama gw dalam membeli atau membaca buku adalah nama pengarangnya. Baru kemudian penerbitnya dan penerjemahnya jika itu merupakan karya fiksi terjemahan. Namun, untuk kali ini gw terpaksa melanggar keyakinan gw sendiri dan menyerah pada daya tarik desain kover hasil rancangan Martin Dima ini. Empat bintang untuk kerjamu, Kawan!, Hehehe.....

Kover ini memikat lantaran gambarnya yang terkesan komik dan jenaka dalam 9 panel (kotak) dengan 3 di antaranya sengaja dibuat “berlubang” seperti jendela. “Jendela” tersebut menampakkan gambar pada lapis kedua sampul ini. Unik. Lucu. Gw sempat mengira ini sebuah novel kanak-kanak seperti layaknya Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi).

2.Judulnya.
Mengingatkan pada salah satu buku : Totto-chan. Seperti sudah gw tulis di atas, semula gw mengira buku ini buku cerita kanak-kanak (atau setidaknya tokoh ceritanya adalah anak-anak). Gw senang dengan buku yang memakai tokoh atau sudut pandang anak-anak.

3.Kertasnya.
Novel karya sastrawan Jepang yang ditulis pada 1906 (ugh....sudah lebih satu abad, ya?) ini oleh Gramedia dicetak dalam jenis kertas ringan yang belakangan ini banyak digunakan oleh penerbit kita.

Ketiga hal tadi sebenarnya sangat jarang memengaruhi gw dalam memutuskan membeli atau membaca sebuah buku (fiksi). Tetapi, agaknya kali ini, pilihan gw terhadap Botchan (dengan menggunakan 3 kategori tadi) nggak keliru. Tentu saja nama penulisnya, Natsume Soseki, nggak mungkin gw jadikan bahan pertimbangan, sebab belum pernah satu kali pun gw dengar. Tapi sekarang gw jadi tahu siapa sesungguhnya dia.

Natsume Soseki lahir di Tokyo pada 1867. Sejak kecil ia telah jatuh cinta pada sastra. Pada usia 14 tahun, untuk pertama kalinya bocah ini mempelajari sastra Cina di sekolahnya yang pengaruhnya terus melekat dan dapat dirasakan dalam karya-karyanya.

Lantaran cinta mati pada sastra, ketika meneruskan ke perguruan tinggi, Soseki memilih Jurusan Sastra Inggris di Tokyo Imperial University pada 1890 dan lulus lima tahun kemudian. Berikutnya, ia mengamalkan ilmunya tersebut di sekolah menengah Matsuyama sebagai guru Bahasa Inggris. Sekolah inilah yang kelak dijadikan setting Botchan, novel keduanya.

Sesungguhnya Botchan adalah sebuah kisah sederhana tentang geliat kehidupan di sebuah desa kecil bernama Shikoku. Dalam skup yang lebih sempit lagi: kehidupan para guru sekolah menengah Shikoku.

“Kecurigaan”-gw kalau Botchan adalah buku kanak-kanak, nyaris terbukti sewaktu gw dapati barisan kalimat pada bab pertama buku ini :

'Sejak aku kecil, kecerobohan alamiku selalu memberiku masalah.
Pernah, suatu kali saat aku masih di sekolah dasar, aku melompat dari jendela di lantai dua dan akibatnya tidak bisa berjalan selama seminggu (hlm 11).'

Gw hampir saja senang karena gw kira akan menemukan sebuah kisah yang senada dengan Totto-chan. Tetapi, rupanya bab 1 ini hanya merupakan episode perkenalan pembaca dengan tokoh utamanya: Botchan yang dalam bahasa Jepang berarti tuan muda.

Oh, jangan buru-buru kecewa sebab kendati temanya biasa dan sederhana saja, Botchan akan memikat lo hingga akhir cerita. Itu jika selera bacaan lo sama dengan gw. Botchan adalah sebuah novel realis yang mengetengahkan persoalan sehari-hari kehidupan para guru (lelaki) yang bisa jadi merupakan potret kecil kehidupan masyarakat Jepang umumnya. Di sana ada orang yang culas, jujur, pemberani, pengecut, santun, penjilat, dan sebagainya.

Botchan sendiri, sebagai karakter utama novel ini, hampir-hampir saja menjadi antihero, karena walaupun ia tokoh protagonis, Natsume tidak menghadirkannya sebagai sosok yang sempurna, serbabaik, dan tanpa cela. Botchan adalah seorang pria biasa dengan kepandaian sedang-sedang saja. Secara fisik pun ia bukan pria tampan yang akan segera memikat hati para gadis. Ia cenderung memiliki sifat seorang penggerutu. Tetapi, ia juga seorang pria jujur yang bersikap adil, baik kepada dirinya sendiri atau pun orang lain.

Dan sebagaimana lazimnya, kejujuran selalu akan berhadapan dengan kelicikan. Memang pada akhirnya novel ini adalah sebuah kisah hitam-putih, namun Soseki tidak terjebak untuk menyampaikan pesan moralnya menjadi sebuah khotbah yang menggurui. Bahkan pada beberapa bagian, ia dengan cerdiknya menyelipkan humor-humor yang cukup lucu yang membuat saya tak mampu menahan senyum atau tawa kecil. Alhasil, Botchan menjadi sebuah bacaan yang menyenangkan dan bergizi tinggi. Bagi yang sudah membaca, apakah lo sepakat dengan gw?